Ketahui Terapi Insulin untuk Diabetes dan Jenisnya

Insulin telah digunakan sebagai terapi diabetes jauh sebelum obat antidiabetes oral ditemukan. Penggunaannya dirancang untuk menirukan pengeluaran hormon insulin dalam tubuh seperti pada orang normal. Hormon insulin ini diproduksi secara alami oleh organ pankreas dan berfungsi untuk mengubah glukosa menjadi energi.

 Terapi insulin bermula dari eksperimen pankreas

Pada tahun 1921, dokter Frederick Banting dan muridnya Charles Best, seorang mahasiswa kedokteran, melakukan eksperimen terhadap pankreas anjing-anjing di Toronto, Kanada.

Ketika pankreas diangkat, anjing-anjing tersebut menunjukkan gejala diabetes. Ekstrak insulin kemudian diambil dari pankreas yang diangkat, lalu disuntikkan kepada anjing-anjing tersebut agar kembali sehat. Percobaan ini sukses dan selanjutnya insulin yang dimurnikan dari sapi dikembangkan untuk terapi diabetes pada manusia.

Mulai tahun 1922, insulin secara resmi diperkenalkan untuk terapi diabetes. Adalah Leonard Thompson, seorang remaja 14 tahun dengan diabetes tipe 1, yang menjadi pasien pertama.

Dengan terapi insulin, ia dapat bertahan hidup hingga 13 tahun kemudian. Sebelumnya, pasien dengan diabetes tipe 1 hanya bisa hidup beberapa bulan sejak terdiagnosis.

Kini, insulin tidak hanya diberikan untuk diabetes tipe 1, tetapi juga diabetes tipe 2 dan diabetes di usia muda (MODY/Maturity Onset of Diabetes of Young).

Bagaimana dengan jenis-jenis insulin yang saat ini beredar di Indonesia?

Jenis-jenis insulin yang ada di Indonesia dapat dikelompokkan berdasarkan asalnya dan lama kerjanya.

Berdasarkan asalnya, terdapat dua jenis insulin yaitu insulin manusia dan insulin analog. Istilah ‘insulin manusia’ lebih merupakan penamaan untuk menjelaskan bahwa insulin buatan ini memiliki cara kerja yang serupa dengan insulin yang diproduksi oleh tubuh manusia.

Baik insulin manusia maupun analog diproduksi dengan cara memperbanyak protein insulin di dalam bakteri E. coli. Bedanya, insulin analog mengalami proses modifikasi genetik agar insulin dapat cara dan waktu kerjanya bisa diatur sedemikian rupa.

Sementara itu, berdasarkan lama kerjanya, insulin dibagi menjadi:

  • Insulin kerja pendek/ cepat, dengan lama kerja 4–8 jam. Insulin jenis ini biasanya diberikan sebelum makan untuk mengendalikan kadar gula darah sesudah makan. Contohnya, insulin manusia kerja pendek (Humulin S®, Actrapid ®) dan insulin analog kerja cepat (Humalog®, Novorapid®, Apidra®).

  • Insulin kerja menengah, dengan lama kerja 8–12 jam. Insulin ini lebih lambat diserap tubuh dan digunakan untuk mengendalikan kadar gula darah saat tidak makan atau puasa. Contohnya, insulin manusia NPH (Humulin N®, Insulatard®).

  • Insulin kerja panjang, dengan lama kerja 12–24 jam. Insulin ini paling lambat diserap oleh tubuh dan bertujuan untuk mengendalikan kadar gula darah puasa. Biasanya hanya digunakan satu kali (malam hari sebelum tidur) atau dua kali (pagi dan malam hari). Contohnya, insulin analog kerja panjang (Lantus®, Levemir®, Ezelin®).

Untuk memenuhi pasien dengan kebutuhan khusus, juga tersedia insulin campuran (premixed). Ini merupakan kombinasi antara insulin kerja pendek dan kerja menengah (insulin manusia, contoh: Humulin® 30/70 dan Mixtard® 30/70) atau insulin kerja cepat dan kerja menengah (insulin analog, contoh: Humalog® 75/25 dan Novomix® 30).

Perbandingan kadar insulin kerja pendek/ cepat dan menengah di dalam insulin campuran ini bersifat tetap.

Setiap jenis insulin memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Dengan memperhatikan karakteristik masing-masing, tiap jenis insulin dapat dipilih dan digunakan sesuai kebutuhan diabetesi di Indonesia.

(RS/ RH)

Sumber :

Share:

Artikel Lainnya

Lihat Semua