Benarkah Gula Dapat Memicu Kolesterol Tinggi?

Sebagai diabetesi, Anda kerap diberitahu untuk menghindari konsumsi makanan yang manis-manis. Ternyata, ada alasan lain di balik itu. Selain meningkatkan kadar gula darah, konsumsi makanan tinggi gula juga dapat memicu kolesterol tinggi.

Banyak orang beranggapan bahwa kadar kolesterol yang tinggi disebabkan oleh makanan, seperti susu full cream, telur, keju, daging berlemak, dan seafood. Kenyataannya, tidak sesederhana itu.

Kolesterol dari makanan hanya berkontribusi sekitar 30% dari total kolesterol dalam tubuh Anda. Sisanya, sebanyak 70%, dihasilkan oleh tubuh sendiri. Karena itu, hal yang perlu Anda lakukan tidak hanya menghindari makanan yang secara alami mengandung kolesterol, tetapi juga yang memicu tubuh menghasilkan kolesterol.

Benarkah gula memicu pembentukan kolesterol?

Para pakar menemukan bahwa gula adalah pemicu utama produksi kolesterol. Gula yang dimaksud adalah gula tambahan yang kerap dipakai sebagai pemanis makanan atau minuman. Gula-gula ini tergolong karbohidrat sederhana, yang biasanya ada di dalam kue-kue kering maupun basah, keripik, permen, cakes, dan minuman kemasan. Karbohidrat sederhana juga bisa ditemukan di dalam makanan hasil olahan biji-bijian, seperti nasi putih, roti putih, dan pasta.

Karbohidrat sederhana yang masuk ke dalam tubuh bersifat mudah diserap sehingga cepat meningkatkan kadar gula darah. Selanjutnya, tubuh akan berespons dengan melepaskan hormon insulin agar kadar gula darah kembali normal. Namun, hormon insulin yang keluar sebagai respons terhadap peningkatan gula darah ini juga memicu pembentukan kolesterol LDL, yang sering disebut kolesterol ‘jahat’.

Dengan kata lain, saat kadar insulin meningkat, kadar kolesterol LDL pun meningkat. Sebaliknya, kadar kolesterol HDL (kolesterol ‘baik’) akan menurun. Di samping itu, tubuh hanya menyimpan gula secukupnya sehingga kelebihan gula darah akan memicu insulin menyimpannya sebagai lemak dalam bentuk trigliserida. Hasilnya, kadar trigliserida darah pun meningkat.

Inilah alasan mengapa penderita diabetes yang belum diobati biasanya memiliki profil lemak darah yang khas, yaitu kadar kolesterol HDL rendah, disertai kadar kolesterol LDL dan trigliserida yang tinggi.

Meski demikian, tak semua gula memicu pembentukan kolesterol. Gula alami, seperti yang ada di dalam buah utuh, diserap secara berbeda. Meski tergolong karbohidrat sederhana, gula buah lebih lambat diserap karena terdapat serat. Namun, ini hanya berlaku bila Anda mengonsumsi buah segar potongan atau dengan kulitnya, seperti saat Anda makan apel atau pir utuh.

Gula-gula yang berasal dari sumber karbohidrat kompleks, seperti nasi merah, roti gandum, dan sayuran, juga tidak mudah diserap sehingga kadar gula darah tidak cepat meningkat. Otomatis, kadar hormon insulin menjadi lebih stabil.

Jadi, bagaimana cara mencegah kolesterol tinggi?

Ingat bahwa makanan atau minuman berlabel rendah lemak dan rendah kolesterol belum tentu sehat. Tanpa Anda sadari, bisa saja jus buah, minuman kemasan, roti-rotian, maupun makanan olahan lain yang katanya rendah lemak sebenarnya tinggi gula.

Karena itu, selalu perhatikan dengan saksama fakta nutrisi dalam label makanan atau minuman kemasan yang dibeli. Gula tidak selalu ditulis sebagai ‘gula’, melainkan tersamarkan melalui nama lain, seperti high-fructose corn syrup, gula jagung, madu, molasse, dan berbagai jenis gula yang berakhiran “-osa” (atau “-ose” dalam bahasa Inggris).

Perhatikan pula jumlah gula per takaran sajian. Ini bisa menjadi panduan untuk membatasi konsumsi gula. Bagi orang dewasa, WHO menganjurkan batasan konsumsi gula sebanyak 25 gram atau 6 sendok teh per hari.

Hal yang paling penting, usahakan untuk selalu mengonsumsi karbohidrat dalam bentuk aslinya, seperti buah utuh yang bisa dimakan dengan kulitnya atau buah potong, dibandingkan jus buah. Perbanyak juga konsumsi sumber karbohidrat kompleks, seperti oatmeal, kacang-kacangan, nasi merah, dan sayur-sayuran.

Ibarat peribahasa “sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui”, membatasi konsumsi gula dapat mengendalikan diabetes sekaligus mencegah Anda mengalami kolesterol tinggi.

 

[RS/ RH]

 

Sumber 1

Sumber 2

Share:

Artikel Lainnya

Lihat Semua