Diabetes dan Demensia, Adakah Hubungannya?

Pernah menghadapi orang tua yang kerap menanyakan hal sama berulang-ulang? Atau lupa apa yang baru saja dilakukannya, seperti makan atau minum obat? Kedua hal itu merupakan sebagian dari gejala demensia atau pikun, yang biasanya menyerang lansia di atas usia 65 tahun. Namun, penderita diabetes juga diduga bisa mengalami kondisi tersebut, bahkan di usia yang lebih muda. Bagaimana fakta medisnya?

Demensia merupakan kondisi yang menyebabkan gangguan daya ingat akibat penurunan fungsi kognitif yang cukup berat. Keadaan ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan menurunkan kualitas hidup orang yang mengalaminya.

Demensia dan diabetes

Kajian berbagai studi secara konsisten menunjukkan bahwa individu dengan diabetes dua kali lebih berisiko mengalami demensia. Risiko ini ditemukan lebih besar pada mereka yang terdiagnosis diabetes sebelum usia 65 tahun dibandingkan setelah usia 65 tahun.

Semakin lama dan semakin berat diabetes, semakin tinggi pula peluang mengalami demensia.  Hal ini karena kadar gula darah tinggi yang tidak terkendali dalam jangka panjang dapat menimbulkan kerusakan pada pembuluh darah otak. Akibatnya, sel-sel otak akan kekurangan oksigen dan kehilangan fungsinya.

Kemudian, pembuluh darah otak juga dapat mengalami penumpukan plak yang lantas memicu peradangan dan pembentukan radikal bebas. Pada akhirnya, hal-hal tersebut menyebabkan daya pikir dan daya ingat semakin menurun.

Rentetan peristiwa di atas menjadi semakin parah bila diabetesi memiliki kondisi penyerta, seperti obesitas, penyakit jantung, kelainan pembuluh darah, kolesterol dan tekanan darah tinggi.

Secara statistik, individu dengan diabetes mengalami gejala demensia 2,2 tahun lebih cepat dibandingkan individu sehat. Kematian akibat demensia pun terjadi 2,6 tahun lebih cepat pada individu dengan diabetes.

Cara mencegah

Tidak semua orang dengan diabetes akan berakhir pada kondisi demensia. Ini karena daya ingat dan fungsi kognitif penyandang diabetes yang menjalani pengobatan akan lebih baik daripada yang tidak.

Atas dasar tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa diabetesi harus melakukan kontrol gula darah secara ketat untuk memperlambat munculnya demensia. Selain itu, diabetesi juga wajib menerapkan gaya hidup sehat sebagai berikut:

  • Konsumsi diet tinggi vitamin D, asam folat, vitamin B6 dan B12.
  • Sediakan waktu untuk melakukan aktivitas fisik selama 30 menit sehari.
  • Melakukan ‘senam’ otak melalui brain games.
  • Tetap aktif secara sosial.
  • Tantang diri untuk mempelajari atau mencoba hal baru setiap hari.
  • Biasakan untuk membaca dan merangkum isi bacaan.
  • Lindungi kepala saat berolahraga atau saat berkendara dengan motor.

Jangan maklum dengan pikun, apalagi bila kondisi tersebut terjadi akibat demensia. Kendalikan diabetes, jalani pola hidup sehat, dan sering-seringlah melatih otak. Dengan ini semua, niscaya Anda akan terhindar dari demensia di kemudian hari.


(NB/ RH)

Sumber 1

Sumber 2

Share:

Artikel Lainnya

Lihat Semua