Fruktosa dan Diabetes, Kawan atau Lawan?

Fruktosa merupakan salah satu jenis gula pembentuk sukrosa (gula pasir), bersama dengan glukosa. Keduanya tergolong monosakarida atau karbohidrat sederhana, namun tubuh mencernanya secara berbeda.

Tubuh manusia tidak dapat menghasilkan fruktosa. Karenanya, sebelum zaman menjadi modern, manusia tidak pernah mengonsumsinya kecuali saat sedang musim buah. Itulah sebabnya fruktosa disebut juga sebagai gula buah.

Tidak demikian dengan glukosa atau yang disebut sebagai gula darah. Glukosa merupakan komponen yang vital untuk kehidupan. Karena itu, tubuh manusia dapat memproduksinya sendiri.

Di dalam tubuh, proses metabolisme glukosa dan fruktosa sangatlah berbeda. Glukosa bisa digunakan oleh semua sel tubuh manusia, sedangkan fruktosa hanya bisa diolah oleh organ hati. Perbedaan lain, glukosa dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi atau disimpan dalam bentuk glikogen di otot dan hati, sementara fruktosa langsung ditimbun sebagai lemak perut.

Penumpukan lemak perut ini diketahui akan meningkatkan kadar trigliserida dan kolesterol jahat, meningkatkan kadar asam urat, memicu perlemakan hati, dan menyebabkan resistensi insulin. Semuanya itu merupakan faktor risiko berbagai penyakit tidak menular, seperti obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung koroner, stroke, dan kanker.

Fruktosa yang aman untuk diabetesi

Anda tidak perlu menghindari buah meski mengandung fruktosa. Ini karena kandungan fruktosa di dalam buah sangat kecil. Sewajarnya, Anda pun tidak akan sampai mengonsumsi buah berlebihan hingga mencapai kadar fruktosa yang membahayakan tubuh. Lagipula, sebagian besar buah mengandung serat, sehingga mengenyangkan.

Cerita menjadi berbeda bila Anda mengonsumsi fruktosa yang terdapat di dalam makanan olahan atau siap saji. Fruktosa digunakan sebagai pemanis di dalam makanan-makanan ini, dan kerap ditemukan dalam bentuk high-fructose corn syrup atau HFCS yang berasal dari jagung.

Konsumsi fruktosa yang berasal dari makanan olahan sangat mungkin berlebih. Pertama, karena porsinya kecil tetapi padat kalori seperti pada kue-kue kering atau minuman kemasan. Kedua, tidak mengandung serat sehingga Anda akan cepat lapar. Akibatnya, Anda pun cenderung makan berlebih.

Agar konsumsi fruktosa tak berlebihan, ingatlah untuk selalu mencermati fakta nutrisi pada kemasan saat memilih suatu produk makanan atau minuman. Perhatikan jenis gula, sirup, jus, atau konsentrat yang digunakan sebagai pemanis tambahan. Sebisa mungkin, hindari produk-produk yang mengandung fruktosa. Batasi pula minuman bersoda dan jus buah buatan pabrik.

Setelah mengetahui fakta di atas, diharapkan Anda bisa memilih makanan dan minuman dengan lebih bijak lagi. Bila lidah Anda menyukai rasa manis fruktosa, lebih baik mencari sumber manis alami seperti madu atau buah, bukan yang lainnya.
(NB/ RH)

Share:

Artikel Lainnya

Lihat Semua