Cara Menjaga Asupan Gizi Anak dengan Diabetes yang Berpuasa

Berpuasa tidaklah mudah bagi anak-anak. Terlebih, bagi yang mengalami diabetes, puasa hendaknya tidak membuat kadar gula darah semakin memburuk atau malah memicu komplikasi yang membahayakan. Oleh sebab itu, asupan gizi anak harus betul-betul diperhatikan.

Kiat berpuasa yang aman pada anak dengan diabetes

Penting bagi orang tua untuk mengajarkan cara berpuasa yang benar pada anak dengan diabetes. Bagaimana caranya agar ia terbiasa dengan tradisi tersebut sementara proses tumbuh kembang dan pengelolaan gula darahnya tidak terganggu.

Untuk mencapai hal tersebut, simak kiat-kiatnya berikut ini:

1. Mulai secara bertahap

Sebelum memutuskan berpuasa atau tidak, pastikan anak sudah menjalani pemeriksaan dengan dokter yang merawat, apakah anak boleh atau tidak boleh berpuasa di tahun ini.

Bila ternyata dokter memperbolehkan anak untuk berpuasa, sekitar 1–2 minggu sebelum bulan puasa dimulai sebaiknya kurangi frekuensi makan anak di siang hari secara bertahap.

Ini bertujuan agar anak terbiasa dengan pola makan saat puasa. Setelah itu, diskusikan dengan anak kapan ia ingin memulai puasa dan berapa lama durasinya.

Usia yang paling tepat untuk memulai puasa pada anak yakni pada usia sekolah karena anak sudah cukup mampu untuk menahan lapar dan haus.

Sedangkan anak yang masih balita atau belum masuk usia sekolah tidak dianjurkan untuk berpuasa karena masih membutuhkan kecukupan zat gizi yang relatif besar untuk proses tumbuh kembangnya.

Untuk anak yang belum diwajibkan berpuasa (di bawah usia 12 tahun atau belum mengalami akil baligh), waktu berpuasa dianjurkan hingga tengah hari saja.
Misalnya, dari setelah sahur hingga pukul 12 siang. Bila mampu serta kadar gula darah tetap stabil, Anda bisa menambah durasi berpuasa secara bertahap, misalnya hingga jam 1, jam 2, atau jam 3 sore, sampai anak dapat berpuasa sehari penuh.

Selama periode puasa secara bertahap ini dilakukan, orang tua harus betul-betul mengawasi dan memastikan anak mendapatkan seluruh kebutuhan gizi dan cairan yang diperlukan.

2. Batasi aktivitas fisik anak

Anak dengan diabetes yang berpuasa harus menghindari aktivitas fisik yang berlebihan atau berintensitas berat. Sebaiknya anak lebih banyak disibukkan dengan aktivitas dalam ruang dan permainan agar dapat teralih dari rasa lapar.

Bila ingin melakukan aktivitas luar ruang, lakukan dekat waktu berbuka atau setelah pukul 4 sore, saat udara sudah mulai sejuk. Jangan lupa mengajak si Kecil untuk tidur siang.

3. Pastikan cukup minum

Anak harus minum banyak air selama waktu berbuka agar tidak mengalami dehidrasi dan sembelit. Selain dari air minum, air juga bisa didapat dari buah potong segar, susu, yoghurt, jus dan sayur-sayuran berair.

Contoh buah-buahan yang tinggi kandungan airnya yaitu melon, pir, mangga, buah beri (stroberi, bluberi), kelapa, nanas, anggur, dan jeruk.

4. Perhatikan menu makanan saat sahur dan berbuka

Pada dasarnya, menu sahur dan berbuka anak dengan diabetes harus berasal dari makanan yang memiliki indeks glisemik rendah (< 55) dan dapat menjaga kadar gula darah tetap stabil. Makanan-makanan ini biasanya tinggi serat dan lambat diserap tubuh, sehingga anak pun menjadi lebih tahan lapar.

Menu makanan juga harus bervariasi serta mengandung sumber karbohidrat, protein dan lemak sehat. Anda bisa mengaturnya seperti berikut: ¼ piring untuk nasi atau sumber karbohidrat, ¼ lainnya untuk lauk pauk dari sumber protein seperti telur, daging, tahu, tempe, atau kacang-kacangan, dan ½ piring untuk sayuran.

Makanan dan minuman yang mengandung karbohidrat sederhana dan tinggi kalori seperti roti-roti manis, makanan siap saji, gorengan, minuman bersoda, minuman kemasan dan lainnya yang berindeks glisemik tinggi, harus sebisa mungkin dihindari.

Makanan-makanan ini umumnya cepat meningkatkan kadar gula darah dan miskin zat gizi. Makanan yang terlalu bergaram juga harus dibatasi agar tidak kehausan selama berpuasa.

Orang tua kerap mendorong anak untuk makan berlebihan saat sahur dan berbuka karena takut kebutuhan kalorinya tak tercukupi. Cara ini tidak dianjurkan karena makan berlebihan hanya akan menyebabkan gangguan pencernaan yang memicu rasa kembung dan tidak nyaman pada perut.

Untuk mengakalinya, anak bisa berbuka dengan makanan ringan terlebih dulu seperti kurma, sup, susu, jus buah, atau buah-buahan segar. Satu jam kemudian, baru makan besar.

5. Pantau berat badan anak selama puasa

Jika asupan gizi anak cukup selama puasa, maka berat badan anak bisa tetap atau malah naik. Jika yang terjadi sebaliknya, Anda perlu mengevaluasi kembali cara anak berpuasa, aktivitasnya, juga menu makanan yang diberikan saat sahur dan berbuka.

Jangan lupa sahur!

Bagi anak dengan diabetes, sahur merupakan hal yang wajib untuk dilakukan. Karena itu, jika anak tidak terbangun saat sahur, hindari berpuasa karena dapat berisiko menimbulkan hipoglikemia dan dehidrasi.

Anak dengan diabetes boleh-boleh saja berpuasa, asal dilakukan dengan tepat dan gizinya terpenuhi. Dengan menjalankan kiat-kiat di atas, anak Anda dapat menjalankan ibadah puasa dengan aman tanpa khawatir gula darahnya terganggu atau kekurangan zat gizi.

[NP/ RH]

Sumber 1

Sumber 2

Share:

Artikel Lainnya

Lihat Semua