Apakah Anak dengan Diabetes Boleh Ikut Berpuasa?

Anak di bawah usia 12 tahun atau yang belum mengalami akil baligh, serta memiliki diabetes sebenarnya tidak diwajibkan untuk menjalani ibadah puasa. Namun, bila anak ingin berpuasa, bolehkah ini dilakukan?

Jenis diabetes yang dialami oleh anak-anak umumnya berbeda dari orang dewasa. Diabetes yang dialami merupakan diabetes tipe 1 yang ditandai dengan adanya kerusakan sel beta pankreas. Akibatnya, tubuh tidak mampu memproduksi cukup insulin untuk mengendalikan kadar gula darah. Ketimbang diabetes tipe 2, diabetes jenis ini lebih berisiko menimbulkan komplikasi saat berpuasa.

Risiko terbesar yang dapat terjadi adalah menurunnya kadar gula darah (hipoglikemia) secara drastis yang dapat bersifat mengancam nyawa. Risiko lain yakni kekurangan cairan (dehidrasi) dan pengentalan darah yang dapat memicu penyumbatan pembuluh darah (trombosis).

Meski demikian, keputusan boleh tidaknya berpuasa tergantung dari hasil evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan diabetes oleh dokter yang merawat.

Para pakar sepakat bahwa selama kontrol gula darah baik dan rutin melakukan pemantauan gula darah mandiri, puasa Ramadan aman bagi anak dengan diabetes. Tentunya, di bawah pengawasan ketat dokter yang merawat.

Lantas, apa yang perlu dipersiapkan sebelum memulai puasa?

Agar kadar gula darah tetap stabil selama puasa, anak dengan diabetes yang ingin berpuasa harus menjalani pemeriksaan, kurang lebih 1–2 bulan sebelum mulai berpuasa.

Penilaian ini bertujuan untuk melihat risiko komplikasi dari anak yang berpuasa berdasarkan hasil pengelolaan gula darah serta kepatuhan terhadap pengobatan.

Bila ternyata boleh berpuasa, anak harus mendapatkan edukasi khusus terkait puasa Ramadan dan risikonya, serta mengikuti anjuran diet, aktivitas fisik, dan pengobatan yang telah disesuaikan untuk masa puasa.

Jangan lupakan hal ini!

Agar kadar gula darah anak dengan diabetes tetap stabil selama puasa, gula darah harus rutin diperiksa sebelum makan, dua jam setelah makan, selama berpuasa, serta kapanpun bila muncul tanda-tanda dehidrasi, hipoglikemia (kadar gula darah yang terlalu rendah atau di bawah 70 mg/dL) atau sedang sakit.

Anda tak perlu khawatir, mengecek kadar gula darah tidak membatalkan puasa. Selain itu, orang tua dari anak dengan diabetes juga harus tahu kapan puasa perlu segera dibatalkan.

Bila kadar gula darah jatuh di bawah 70 mg/dL atau mengalami tanda-tanda hipoglikemia seperti keringat dingin, rasa melayang atau lemas, serta bila kadar gula darah terlalu tinggi (>300 mg/dL), sebaiknya segera batalkan puasa anak. Hindari pula anak berpuasa saat sedang sakit.

Sebagai kesimpulan, anak dengan diabetes tetap boleh menjalankan puasa Ramadan asal telah dievaluasi secara menyeluruh oleh dokter yang memberikan pengobatan. Orang tua diharapkan tetap mendukung sembari waspada akan tanda-tanda komplikasi yang mungkin timbul akibat berpuasa. Semoga ibadah puasa Anda dan keluarga berjalan lancar!


[NP/ RH]
Sumber 1

Sumber 2

Share:

Artikel Lainnya

Lihat Semua